• Breaking News

    Kamis, 01 Maret 2018

    Terima Kasih Ustadz, Atas Semua Teladannya

    Keluarga, saudara, dan kenalan alm. Ust. Sudirjo berdoa mengelilingi makam almarhum usai pemakaman di Pemakaman Muslim Kauman Salatiga, Rabu (28/2/2018)

    Airmata ini bolak-balik mengalir saja. Dan puncaknya adalah ketika tausiyah disampaikan saat pemberangkatan jenazah ustadz Sudirjo dari rumah duka. ” Ingin dikenang sebagai apa diri kita ini oleh istri dan anak-anak kita, oleh sanak-saudara dan kerabat kita, oleh tetangga-tetangga kita,  oleh teman dan sahabat kita, oleh orang-orang di sekitar kita." “Apa yang telah kita perbuat untuk lingkungan kita. Dan apa yang sudah kita siapkan untuk bekal kita kembali kepada-Nya” Kalimat-kalimat itu seraya membawa kembali suara ustadz Dirjo saat menyampaikan ceramah-ceramah beliau. Beberapa kali ikut session beliau. Beliau selalu mengingatkan akan pentingnya pembenahan terhadap amalan-amalan sholat kita. Bukankah Sholat merupakan amalan yang pertama akan dihisab. Beliau sering menekankan harusnya dari pelaksanaan sholat yang benar inilah, jika kita memahami dan menggamalkan apa yang kita baca dalam sholat-sholat kita, kita akan semakin paham tentang tanggung jawab kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Dan insyallah kita akan mampu memberi warna bagi lingkungan kita.

    Visioner mungkin kata itu yang bisa saya pakai untuk menggambarkan beliau. Bersama dengan Bunda Aena Hullaiya, mereka berdua bersama-sama mendidik putra-putrinya menjadi pribadi-pribadi yang taat kepada perintah Allah, mencintai dan hormat kepada orang tua, serta santun dalam bermasyarakat. Berdua mereka tak kenal lelah berdakwah sampai ke mana-mana dan termasuk dari asabiqunal awwalun menyebarkan dakwah di Kota Salatiga.

    Pak Dirjo sebagai pribadi, saya kenal selalu ceria dan penuh semangat. Dia bisa serius tapi juga jenaka dalam menyampaikan dakwahnya. Terbuka terhadap berbagai pertanyaan dan masukan. Beliau juga banyak membuka wawasan saya dan murid-muridnya dalam memahami makna-makna ibadah, penghambaan kita kepada Allah.

    Begitu juga dengan Bu Aena, beliau serasa ibu dan teman bagi kami anggota kajiannya. Tak ada jarak antara beliau sebagai murabbiyah dan kami a’dhonya. Beliau tak membikin jarak sehingga kami yang masih lemah soal ilmu agama bisa sangat terbuka kepada beliau, sering bertanya dalam mencari pemahaman tentang agama. Ceria dan semangat, itulah beliau dalam memandang setiap persoalan kehidupan, sehingga semangat itu menulari kami anak-anak didiknya. Karena hidup tak selalu sempurna, yang terjadi tak selalu kita suka.Tapi kita bisa selalu bahagia dengan cara mensyukuri yang ada.

    Dari delapan putra-putri beliau, saya hanya  mengenal dekat satu. Hanya karena saya pernah menjadi gurunya saat saya masih mengajar di SMP. Himmah, remaja putri yang pendiam tapi cerdas dan dewasa. Sangat sulit untuk mendengar suaranya alias irit ngomong, tapi nilai-nilai di Bahasa Inggrisnya selalu cemerlang. Bahkan dia masih kuat dengan hafalan-hafalan ayat Al Qur’annya di mana anak-anak jaman sekarang lebih senang menghafal nama-nama artis korea yang lagi kekinian.

    Putra beliau berdua yang lain yaitu Ibad atau Qayyis ya [saya selalu bingung dengan mereka berdua] yang selalu setia mendampingi abi-umminya saat memberikan kajian-kajian. Untuk anak seumur dia. Saya selalu dibuat kagum dengan ketakzimannya. Saat mereka ikut duduk tenang dan memperhatikan seraya ikut membantu-bantu mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan orang tuanya.

    Dan saya dibuat lagi kagum akan ketegaran keluarga ini dalam menghadapi ujian penuh hikmah ini. Tadi pagi, Ketika saya dan ibu-ibu yang lain datang [Bu Ae, itu panggilan kesayangan kami kepada beliau] tanpa tenang dan bahkan beberapa kali saya melihat beliau tanpa tersenyum menyambut kawan-kawan lamanya yang mungkin sudah lama tak bersua. Dan ketika saya bisikkan “anak-anak hebat ibu”, beliau mengenggam erat tangan saya sambil berkata “insyallah, doakan mbak”. Tak ada tubuh lunglai, beliau masih tampak tegar menerima tamu dan meminta putra-putrinya untuk bersegera bersiap untuk mandi dan makan pagi sebelum nanti tamu-tamu akan semakin banyak berdatangan. Putra-putri beliau pun tampak tegar. Hanya Taki-si bungsu yang baru duduk di kelas 1 yang semalam menangis, itupun “katanya” karena saat saya sampai semalam, anak lelaki yang super rapi itu sudah tampak tenang bermain dengan sepupu-sepupunya. Semua putra-putri beliau tampak tegar dan tenang, dari sejak semalam sampai keberangkatan jenazah dari rumah duka.

    Ketika jenazah pak Dirjo telah diterima kedua putranya diliang lahat. Dan tanah sedikit demi sedikit sudah mulai diuruk dan hanya doa-doa yang mampu dipanjatkan . Barulah saya lihat air mata mengalir di pipi mereka bu Aena dan putra-putrinya yang  duduk melingkari pusara. Hanya doa yang bisa terpanjatkan, semoga  Bu Aena sekeluarga tetap diberi kesabaran dan kekuatan.

    Selamat Jalan Ustadz Dirjo. Terima Kasih atas teladan yang engkau berikan.

    Ya Allah, ampuniah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia [dari hal yang tidak disukai], maafkanlah dia dan muliakanlah tempatnya [surga], luaskanlah kuburnya, mandikan dia dengan air, salju dan air dingin. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya [di dunia]. Dan masukkan dia ke surga, lindungi dia dari siksa kubur dan jauhkanlah dari siksa neraka. Aamiin. [by dianfa]

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar